21 October 2005

Hakikat Manusia

Sekejap teringat kalimat lama yang pernah kubaca: ”hakekat manusia adalah pikirannya”. Kalimat itu menggelitik dan menggugah untuk meninjau artinya lebih jauh. Benarkah hakikat manusia itu hanya terdapat pada pikirannya?

Manusia sebagaimana mahluk hidup lain, mempunyai organ-organ penyesuai terhadap alam sekitarnya seperti sistem pengolah energi, sistem indera perasa dan sebagainya. Sistem-sistem tersebut bekerja saling mendukung membentuk sistem yang lebih besar. Sistem yang kompleks pasti bekerja dengan kendali, seolah ada program canggih yang mengendalikan sistem itu. Tanpa adanya program pengendali bagaikan sebuah komputer tanpa software.

Kelebihan manusia dibanding mahluk lain terletak pada kecerdasannya. Dengan kecerdasan manusia dapat membangun karya-karya yang berkembang, menjadi tradisi, teknologi, peradaban dan kebudayaan tinggi, semua bermula dari jalan pikiran (kecerdasan). Pikiran dalam konteks kecerdasan, itulah yang mengendalikan seluruh sistem organ manusia baik sadar maupun tidak.

Gangguan pada kecerdasan seorang manusia dapat menyebaban "kelumpuhan" tertentu. Kalau sudah begitu maka hakikat dan kemampuannya sebagai manusia juga memudar. Gangguan yang bersifat permanen pada kecerdasan membuat manusia lebih mirip mahluk hidup biasa saja. Sebaik apapun fisik manusia bila pengendalinya tidak berfungsi, maka tak berfungsi pula fisik tersebut.

Ternyata dalam kehidupan bisa diamati aspek bervariasi pada kecerdasan. Kepandaian manusia dalam mengkalkulasi dan menyelesaikan persoalan logika-logika matematis sering disebut dengan Kecerdasan Intelegensi.

Sementara jiwa merupakan sisi mental spiritual serta idealisme dalam kehidupan ternyata juga mempunyai kecerdasan, karenanya perkembangan jiwa bisa dikendalikan. Seseorang yang cerdas pikirannya bisa juga tertinggal kecerdasan jiwanya, sehingga mengakibatkan kekurangan mentalitas. Aspek kecerdasan ternyata juga terdapat pada jiwa yang disebut dengan Kecerdasan Spiritual.

Sedangkan emosi merupakan bagian yang mengendalikan perilaku manusia mempunyai nilai kecerdasan juga yang sering disebut dengan Kecerdasan Emosional.

Terbangunnya kecerdasan-kecerdasan itu ditandai dengan kualitas logika yang baik, mental dan emosi yang seimbang serta nilai spiritual yang tinggi. Sebaliknya kekurangan pada salah satu saja aspek kecerdasan itu mengakibatkan kekurangan pada diri manusia dan ke tidak-seimbangan. Jadi Bolehlah dikatakan kalau kecerdasan merupakan top management dalam sistim kehidupan manusia, sebagai pengendali dan pengarah semua kegiatan manusia.

Pemahaman kita sementara menyimpulkan bahwa semua kecerdasan berpusat di otak dan susunan syaraf pusat. Bila manusia kehilangan seluruh kecerdasannya maka hanya menyisakan insting. Mahluk hidup lain juga mempunyai insting yang merupakan bagian dari kecerdasan dasar alami. Tetapi dengan insting saja manusia tidak bisa memecahkan banyak persoalan hidup, manusia membutuhkan kecerdasan lebih dari sekedar insting.

Kembali pada kalimat yang menggelitik diatas: "hakikat manusia adalah pikirannya" bila yang yang dimaksud pikirannya adalah kecerdasannya, maka kalimat itu ada benarnya. Bagaimana kinerja manusia, menjadi seperti apa manusia semua itu banyak bertumpu pada jalan pikirannya.

Apakah keseluruhan kehidupan manusia cukup diwakili dari "kecerdasan"nya? Dalam hubungan dengan keyakinan akan hari kebangkitan, cukupkah bila fungsi-fungsi kecerdasan saja dibangkitkan untuk diminta per-tanggung-jawabannya?

Tetapi telah diisyaratkan bahwa organ-organ manusia akan berbicara dan menjadi saksi tentang apa yang dikerjakan pada hidupnya. Petunjuk tersebut cukup valid bila mengingat bahwa organ-organ kita dapat menunjukkan (menceritakan): pola hidup, kesehatan, penyakit yang diderita dan sebagainya.

Sementara kecerdasan dan fisik bervariasi terhadap usia, bagaimana dan pada usia berapa saat manusia dibangkitkan kembali? Termasuk hal gaib?

Untuk urusan hal-hal gaib seperti itu manusia hanya bisa memahami porsi yang sangat kecil, sedangkan kewajiban manusia adalah mengimani hal itu sesuai dengan logika yang ada.

Wallahualam. Dia lah yang maha mengetahui dan menjaga.

Kecerdasan sebagai penentu siapa hakikat diri kita, sebagai karya kecerdasan apa yang kita kerjakan adalah tanggung jawab kita. Manfaatkan kelebihan kita itu untuk karya yang dapat di-pertanggung-jawabkan baik untuk hari ini maupun hari esok.

05 October 2005

Welcome Ramadhan

Bulan istimewa itu hadir kembali, satu bulan diantara sebelas yang lain. Ketika tuntunan mulia dijalankan, bulan ini penuh kemuliaan. Ketika pahala dilipat gandakan, bulan ini penuh keberuntungan. Ketika pribadi-pribadi terjaga suci, bulan ini penuh dengan kesucian. Adalah orang yang merugi yang meninggalkan keistimewaan Ramadan.

Bulan istimewa ini ditandai juga dengan Lailatul Qadar, hanya satu malam saja, lebih baik dari seribu bulan. Tujuh belas Ramadan, hari bersejarah turunnya Al-Qur'an, pembeda dan petunjuk kebenaran sejati, serta tanda-tanda lainnya yang menakjubkan.

Ramadan menjanjikan kemenangan sejati bagi yang bisa mengendalikan dan mengelola diri. Kemenangan yang berdasar pada kebenaran, yang membawa keberuntungan dan kebahagian. Kemenangan yang diraih dengan segenap usaha dan kegigihan.

Sunatullah, hukum alam, tradisi, maupun pengetahuan telah mengajarkan bahwa manusia membutuhkan pengendalian untuk mencapai tataran lebih tinggi. Manusia perlu melatih diri, mengembangkan diri, mengasah kemampuan, untuk mencapai titik optimal: kematangan, kepekaan, keterlatihan. Ramadan penuh kesempatan, sebuah desain pengembangan pribadi, mahakarya Sang Empu nya jagad.

Kemenangan mengendalikan dan mengelola diri adalah kemenangan sejati. Kemenangan yang berdasar pada kebenaran, yang membawa keberuntungan dan kebahagian. Kemenangan yang diraih dengan segenap usaha dan kegigihan.

Selamat datang Ramadan, marilah berpuasa dengan kesucian untuk menggapai kemenangan sejati.