29 September 2005

Nusa Kambangan

Setelah menyusuri lereng Pegunungan Slamet, perjalanan berikutnya ke pulau aneh di selatan Jawa :-P

Siapa tak kenal dengan Nusa Kambangan, setidaknya kita pernah mendengar namanya. Pada masa kolonial tempat ini sebagai pulau pembuangan dan pengasingan, bahkan disana masih terlihat bekas sebuah lokasi rumah sakit isolasi untuk penderita kusta. Pada masa transisi pernah sebagai tempat pembantaian, cukup mengerikan bukan?

Nusa Kambangan ternyata mempunyai pesona keindahan, jadi tidak salah juga bila berwisata ke tempat ini. Yang menarik adalah suasana sebagai pulau tahanan, mengingat tahanan di Nusa Kambangan mempunyai bobot kriminal yang tinggi. Bagaimana penempatannya, pengelolaan dan keamanannya, siapa yang tinggal disana?

Walaupun hanya menyisir jalan tak mulus sepanjang kira-kira enam belas kilometer, cukup terwakili situasi Nusa Kambangan. Beberapa Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) dilewati, gua bersejarah dan sejumlah hal aneh :)

Gua Ratu yang mempunyai stalaktik dan stalakmit besar, menurut terawangan mistis adalah tempat berkumpulnya mahluk halus. Di dalamnya terdapat juga batu ”Gondo Mayit” yang menghamburkan aroma tidak sedap pada saat tertentu (Jumat atau Selasa Kliwon). Panjang gua ini mencapai beberapa kilometer sampai ke laut selatan. Namun demikian oksigen hanya bertahan pada satu kilometer pertama, selanjutnya ibarat rokok pun akan mati.

Sebuah tanda makam juga nampak dengan nama berbau cina: Kwa Chen Re ? Babad Nusakambangan 1427, siapa punya cerita ini ?

Ada beberapa Lapas yang tertutup disana, tahanan berada di Lapas sesuai dengan kasusnya. Beberapa diantara mereka saat menjelang masa kebebasan menjalani program asimilasi, pembekalan dan pengkaryaan di pulau Nusa Kambangan. Kegiatannya seperti menggembala, bertukang, berjualan akik, membantu di pelabuhan dan tentu masih dalam kesatuan pulau dan berbaur dengan penduduk. Penduduk adalah karyawan Lapas & keluarganya, selain itu tidak ada pihak lain yang tinggal di Nusa Kambangan.

Sistem keamanan tidak terlihat garang, tidak terlihat petugas bersenjata berjaga-jaga. Tetapi mengingat keperluan akan keamanan pasti semua sudah diperhitungkan. Mungkin ke-angker-an pulau ini ikut menentukan kondisi sehingga orang segan untuk melakukan kontroversi :-)

Lapas terbaru direncanakan untuk tahanan yang terlibat terorisme. Semua dinding terbuat dari beton setebal 30 cm termasuk plafonnya juga dari beton (takut tahanannya kabur nih :P ), dominasi warnanya abu-abu, lain dari yang lain.

Pulau ini sekilas nampak sebagai daerah yang jarang disentuh, semak-semak dan pohon-pohon tumbuh liar saling menutup mirip hutan tropis. Kemungkinan binatang buas seperti macan kumbang masih berkeliaran disekitar tempat ini. Hanya di beberapa blok nampak perumahan karyawan dan tempat ibadah.

Nusa Kambangan bersebelahan dengan pulau bersejarah kerajaan Mataram, pulau kecil tempat tumbuhnya bunga Wijaya Kusuma yang merupakan kisah jelmaan dari salah satu senjata kerajaan.

Kabar yang cukup memprihatinkan adalah illegal logging yang sempat merambah daerah Nusa Kambangan, semoga tidak diteruskan.

Jarangnya sentuhan manusia pada alam Nusa Kambangan, justru membuatnya nampak alami, segar dipandang dan relatif bersih dari pencemaran. Lihat saja Pantai Permisan yang menghadap ke laut selatan. Ombak besar dengan karang di tengah, indah dipandang hanya tampak sedikit sampah tak berarti, pohon & bukit alami dan bersih. Lambang Kopasus terlihat diatas karang di Pantai Permisan, menandakan daerah tersebut sebagai salah satu basis komando.

Menurut beberapa sumber cerita Permisan bermakna perpisahan, seseorang yang sudah masuk ke Permisan maka dia tak akan kembali. Nusa Kambangan memang pulau tenang yang menghanyutkan.

20 September 2005

Kaligua High Land

Mengikuti perjalanan muhibah sambil rekreasi ok juga terutama karena gratis :) Kali ini perjalanan menuju dua daerah unik: Kaligua dan Nusa Kambangan.

Kaligua berada di kabupaten Brebes, sekitar tujuh jam perjalanan darat dari Jogja. Ketinggian 1750m diatas permukaan laut. Merupakan daerah lereng Gunung Slamet di Jawa Tengah. Berhawa cukup dingin, puncak kebun ini mencapai 2050m, ideal for high land tea, for teakwalk & for mind refreshment. Suhu berkisar dari 10-20 derajat celcius jadi bisa dibayangkan bagaimana rasanya air, mandi & tidur mesti diperhitungkan dengan baik kalau nggak mau "kedingingan" :-)

Meski hanya sehari cukuplah untuk merasakan bagaimana kehidupan disana. Di remote area ini ternyata ada beberapa blok perumahan penduduk atau karyawan kebun. Jalan masuknya naik sepanjang tujuh belas km relatif sepi karena melewati hutan lindung milik perhutani, jadi tak mungkin ada banyak kegiatan pada jalur ini.

Ini memang tempat ideal sebagai remote area, mungkin di beberapa lokasi saja bisa digunakan untuk hunian dan kegiatan perkonomian. Penduduk sekitar relatif jarang turun gunung mengingat jarak dan jalan yang tidak mudah. Sebelum mencapai Kaligua, nampak pula sebuah perusahaan perkebunan Zeta Agro. Selain itu terlewati Telaga Ranjeng yang indah dan alami, ceritanya ada ribuan ikan lele disana, masih dalam kawasan hutan lindung.

Hutan Kaligua mulanya dibuka untuk kebun teh karena udara dingin cocok untuk tanaman teh. Kemudian didirikan pabrik teh untuk memproses langsung hasil perkebunan menjadi teh hitam. Konon ceritanya lokasi kebun ini ditemukan oleh warga Belanda bernama Van De Jong pada masa kolonial tahun 1889. Peralatan turbin dibawa dengan rombongan pekerja yang berjalan kaki naik sepanjang 17 km. Sebagai penghargaan makam Van De Jong masih terawat sampai saat ini di lokasi kebun Kaligua.

Saat ini Kaligua berada dibawah pengelolaan perusahaan perkebunan Nusantara-9 yang berpusat di Semarang. Karena potensi keindahan, kesejukan dan kealamiahan membuat lokasi ini cocok sebagai tempat relaksasi.

Puncak Sakub yang tertinggi di kebun ini (2050m), bisa ditempuh sekitar satu jam dengan jalan kaki dari Kaligua, sayangnya belum punya banyak kesempatan, jadi hanya sempat mengunjungi Goa Jepang dan Tuk Bening.

Goa Jepang lumayan panjang, plafonnya rendah sehingga akupun harus membungkuk, mungkin orang Jepang jaman dahulu pendek? :-P Goa ini berliku-liku gelap dan tersembunyi dibawah kebun teh. Kelebihannya adalah adanya ventilasi sehingga persediaan oksigen cukup banyak.

Di Tuk Bening, sempat minum air yang mengalir jatuh langsung dari mata air pegunungan: air mineral segar yang pas dinginnya.

Sinyal GSM blank karena jauh dari BTS dan banyak halangan pegunungan. Tapi sebenarnya dengan penambahan satu BTS di puncak akan cukup membantu dan potensial membawa banyak costumer baru, mengingat beberapa lokasi penduduk berada disana. Ini masukan buat operator :p

Biasanya lokasi-lokasi alamiah seperti ini, bila sudah banyak penunjung maka keindahan dan kelestariannya terganggu, seperti banyaknya sampah, rusaknya mata air, polusi air dan udara yang meningkat. Tetapi karena masih dalam daerah tertutup dan tidak bisa sembarang orang masuk, justru cukup membantu menjaga kealamiahan tempat ini.

Semoga pengelolaan yang baik tidak sekedar baik secara ekonomis tetapi juga secara ekologis sehingga keaslian, keasrian dan kelestarian alam bisa dipertahankan sepanjang masa. Beruntunglah kita yang masih bisa merasakan kondisi alamiah bumi ini, sebaliknya kita akan merugi karena tidak bisa merasakan alam asli di bumi ini bila kelestariannya tidak terjaga.

Sebagai pelengkap yang belum terlupakan adalah tampilnya Indah, Diana & Yopie meski dari daerah yang jauh dari moderniasasi, tetapi mereka berhasil sebagai musisi entertainer yang memukau & optimal. Ojo dumeh wong Bumiayu... :-)

19 September 2005

Seminar Marketing

Tadinya sekedar bantuin teman untuk check sound, karena melihat topik yang cukup menarik timbulah ide: "kenapa gak ikut sekalian?". Inilah kali pertama belajar marketing agak formal. Tidak tanggung-tanggung dengan nara sumber "Profesor Basu Swastha".

Ilmu marketing nampaknya terlalu banyak untuk dipelajari sekilas, tapi menurutku penguasaan ilmu ini perlu mengambil banyak referensi dari pengalaman nyata, karena berbagai variasi marketing memerlukan kesesuaian dengan situasi dan kondisi, tidak terlalu teoritis.

Marketing mirip dengan sosialisasi atau pemasyarakatan, perbedaannya yang cukup jelas adalah dalam marketing terdapat komponen exchange (the core concepts of marketing). Jadi bolehlah dikatakan marketing termasuk sosialisasi, tetapi sosialisasi tidak selalu marketing.

Mementingkan konsumen adalah suatu yang perlu disikapi secara wajar dalam rangka mensukseskan marketing, karena konsumen merupakan titik awal dari marketing. Konsumen yang puas akan membawa seratus konsumen, sedangkan konsumen kecewa merupakan iklan terjelek kita. Konsumen nakal dalam sudut pandang positif ilmu marketing jumlahnya lebih sedikit dibanding konsumen fair.

Mungkin kita tidak begitu menyadari kalau ternyata setiap orang sebenarnya melakukan marketing. Dalam keluarga anak melakukan marketing dengan orang tua sebagai konsumen, atau bisa juga sebaliknya, semua anggota keluarga melakukan marketing untuk mengungkapkan keinginannya. Dalam organisasi orang melakukan marketing kepada kolega, atasan maupun bawahan untuk mencapai tujuan.

Sedangkan marketing eksternal dari sebuah organisasi ditujukan agar konsumen mengenal dengan benar dan membeli produk yang kita tawarkan. Nah kita tinggal menyesuaikan, marketing kita dibagian mana, metode apa yang sesuai, itulah ilmu marketing.

Pada kesempatan ini disinggung mengenai suatu organisasi dimana para pengurusnya terlalu santai, terlalu informal dalam menghadapi klien, tempatnya cukup gelap, penunjuk arah tidak jelas itu semua merupakan bad marketing. Karena kondisi itulah seminar ini muncul, sebagai kontribusi agar organisasi tersebut lebih berhasil dalam mencapai tujuannya.

Kita perlu melihat kembali, ternyata sikap, ketelitian, kerapian bahkan senyuman juga merupakan marketing.

Banyak diantara kita berhasil melakukan marketing dengan metode konvensional mulut ke mulut, tetapi sudah optimalkah marketing kita? Bila titik awal marketing adalah konsumen, maka konsumen yang banyak adalah awal keberhasilan kita.