Tadinya sekedar bantuin teman untuk check sound, karena melihat topik yang cukup menarik timbulah ide: "kenapa gak ikut sekalian?". Inilah kali pertama belajar marketing agak formal. Tidak tanggung-tanggung dengan nara sumber "Profesor Basu Swastha".
Ilmu marketing nampaknya terlalu banyak untuk dipelajari sekilas, tapi menurutku penguasaan ilmu ini perlu mengambil banyak referensi dari pengalaman nyata, karena berbagai variasi marketing memerlukan kesesuaian dengan situasi dan kondisi, tidak terlalu teoritis.
Marketing mirip dengan sosialisasi atau pemasyarakatan, perbedaannya yang cukup jelas adalah dalam marketing terdapat komponen exchange (the core concepts of marketing). Jadi bolehlah dikatakan marketing termasuk sosialisasi, tetapi sosialisasi tidak selalu marketing.
Mementingkan konsumen adalah suatu yang perlu disikapi secara wajar dalam rangka mensukseskan marketing, karena konsumen merupakan titik awal dari marketing. Konsumen yang puas akan membawa seratus konsumen, sedangkan konsumen kecewa merupakan iklan terjelek kita. Konsumen nakal dalam sudut pandang positif ilmu marketing jumlahnya lebih sedikit dibanding konsumen fair.
Mungkin kita tidak begitu menyadari kalau ternyata setiap orang sebenarnya melakukan marketing. Dalam keluarga anak melakukan marketing dengan orang tua sebagai konsumen, atau bisa juga sebaliknya, semua anggota keluarga melakukan marketing untuk mengungkapkan keinginannya. Dalam organisasi orang melakukan marketing kepada kolega, atasan maupun bawahan untuk mencapai tujuan.
Sedangkan marketing eksternal dari sebuah organisasi ditujukan agar konsumen mengenal dengan benar dan membeli produk yang kita tawarkan. Nah kita tinggal menyesuaikan, marketing kita dibagian mana, metode apa yang sesuai, itulah ilmu marketing.
Pada kesempatan ini disinggung mengenai suatu organisasi dimana para pengurusnya terlalu santai, terlalu informal dalam menghadapi klien, tempatnya cukup gelap, penunjuk arah tidak jelas itu semua merupakan bad marketing. Karena kondisi itulah seminar ini muncul, sebagai kontribusi agar organisasi tersebut lebih berhasil dalam mencapai tujuannya.
Kita perlu melihat kembali, ternyata sikap, ketelitian, kerapian bahkan senyuman juga merupakan marketing.
Banyak diantara kita berhasil melakukan marketing dengan metode konvensional mulut ke mulut, tetapi sudah optimalkah marketing kita? Bila titik awal marketing adalah konsumen, maka konsumen yang banyak adalah awal keberhasilan kita.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment