07 February 2006

Pemanis Kehidupan

Adakah makanan sehari-hari yang tidak mengandung gula? Kalau kita hitung mungkin jumlahnya sangat kecil dibanding yang mengandung (diberi) gula. Rasa manis ternyata tidak mudah dipisahkan dalam kehidupan manusia, kecuali kalau kita puasa mutih :) Manis alami dari tumbuh-tumbuhan biasa disimpan dalam bentuk gula. Paling populer adalah gula tebu (gula pasir), sedangkan pemanis buatan saat ini tidak populer karena tidak mendukung kesehatan.

Berbagai permasalahan seputar rasa manis jarang kita perhatikan kerena publikasinya terbatas dan kalah dengan masalah lain seperti politik, ekonomi dan sebagainya. Hanya kadang-kadang saja kita mendengar masalah ”gula impor”. Baik legal maupun ilegal, impor gula ternyata mengganggu perekonomian masyarakat terutama bagi petani tebu. Kekalahan gula kita ada pada kualitas dan harganya. Kalau gula impor kualitas bagus dengan harga rendah bisa masuk maka industri gula kita bisa tidak laku.

Ada komunitas yang concern tentang gula, mereka yang tergabung dengan ikatan ahli gula Indonesia, tanggal 25 januari kemarin kumpul-kumpul & seminar sehari di Jogja. Karena gak sengaja lagi saya ikutan melihat suasana seminar :p. Temanya formal banget: Meningkatkan Nilai Tambah Perusahaan Gula melalui Peningkatan Kinerja Operasi dan Diverisifikasi Usaha.

Beberapa panelis mengungkapkan success story yang cukup menarik. Bukan hanya membahas proses dan produk gula itu sendiri yang cukup rumit tetapi juga berbagai aspek optimalisasi industri seputar gula, seperti peningkatan kualitas, efisiensi, strategi.

Selain menghasilkan produk samping alkohol dan spiritus, sisa produk tebu yang berupa bagase dan daduk bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif dan bahan baku kanvas rem yang berkulitas. Menurut eksperimen mereka selama bertahun-tahun, daduk sebagai sumber energi alternatif yang terbarukan bisa menghemat biaya hanya 30% nya BBM!. Kanvas rem sudah diproduksi mulai dari rem cakram sepeda motor, mobil, rem tromol sampai rem kereta api. Produk samping lain adalah particle board, pupuk, pakan ternak.

Tantangan buat para ahli gula negeri ini: buat gula kualitas bagus & harga ekonomis, sehingga tidak perlu phobi (takut) terhadap gula impor (China & Thailand). Kelebihan gula impor pada kualitas: putih (bersih), rasa manis, serta harga yang relatif rendah.

Menurut sejarah, Indonesia (Jawa) telah unggul di bidang gula pasir pada tahun 1930an dengan pasar di kawasan Eropa. Namun pada masa itu yang mengelola adalah pemerintah Belanda, sehingga itu kinerja Belanda pada waktu itu. Tetapi mengapa sekarang kita kalah ?

Dalam seminar tersebut diceritakan juga pengalaman seorang pegawai negeri yang sukses setelah berganti profesi menjadi petani tebu. Kalau dibandingkan bila saat ini dia masih pegawai negeri tentu tidak bisa jalan-jalan benchmarking ke China, Thailand, India atau Malaysia. Keputusan untuk berubah dilandasi pada keinginan untuk berkarya secara profesional. Menurutnya tak mungkin bekerja sebagai petani secara profesional sementara dia tetap sebagai pegawai negeri. Dengan kata lain tidak ada pekerjaan yang disebut sambilan kalau kita ingin profesional.

Sementara itu kita tahu bahwa gula juga telah menyebabkan penyakit, akankah kepopulerannya bergeser oleh gula dari jagung yang rendah kalori dari jagung (dextrose) ?

25 January 2006

Blog.Worm

It's a virus.. :))


Blog.Worm

24 December 2005

Marketing ala Kartini 2005

Para online marketer menyebutnya ”Asian Brain” untuk menggambarkan kecerdasan dan inspirasi seorang dari Asia yang sanggup menggetarkan dunia marketing. Asian Brain memanfaatkan teknologi online sebagai media marketing.

Gadis dari Kampung Banjaran Bandung itu mendapat penghargaan dari Menteri Pemberdayaan Wanita sebagai Kartini Indonesia 2005.

Pada usia 24 tahun penghasilannya sebagai marketer mencapai US $ 35.000 per tahun. Dari rumah yang merupakan pusat kegiatannya, Hira merengkuh pasar yang tidak terbatasi oleh dimensi ruang maupun waktu. Prestasi Ahira menanjak cepat melebihi 50.000 marketer lain di dunia.

Jalan tidak selalu mulus karenanya banyak kendala berat yang dihadapi. Menurunnya kepercayaan kepada orang Indonesia karena cyber fraud adalah keadaaan yang sulit. Pelanggaran hak cipta dan praktek-praktek ilegal lain menurunkan kredibilitas kita di mata dunia. Hira juga menghadapi opini negatif tentang marketing yang cukup mengganggu. Di tengah badai dan ombak tersebut, Hira mampu berselancar dan mendapatkan kepercayaan dari berbagai komunitas online marketing dunia. Komitmen Hira pada anti fraud, zero telerance spam policy dan privacy policy meningkatkan kepercayaan pasar.

Beberapa penghargaan yang diraih diantaranya adalah Kartini Indonesia 2005, finalis Young Marketer Award (Hermawan Kertajaya Award), terpilih sebagai 12 Top World's Super Affiliate, penulis "30 Days to E- Mareketing Success" buku E-Marketing terbaik tahun 2003, pendiri Elite Team International dan sebagai pengelola The Best Affiliate Newsletter yang menjadi referensi bagi 21.000 marketer dari 120 Negara.

Niche Market sebagai titik awal
Ke-unikan Hira adalah selalu memulai desainnya dengan riset untuk menemukan niche market (pasar yang tertinggal) sebelum menggarap pasar secara online. Untuk kedua langkah tersebut Hira memanfaatkan the cutting edge technology (teknologi paling baru). Langkah itu memang berat karena harus berkreasi dengan hal baru yang sering memerlukan keberlimpahan skill.

Niche Market yang dipegang Hira sengaja tidak dipublikasikan, itulah yang membuat orang menduga-duga dan menganalisis tetapi sering salah persepsi. Sebagai marketer, Hira bisa mendesain marketing untuk produk apa saja. Tetapi dia cenderung membuat pilihan produk sesuai dengan karekter diri dengan penilaian berdasar kualitas, product knowledge dan prospek.

Dengan langkah uniknya itu model marketing Hira selalu mempunyai salah satu dari ciri khas berikut: yang pertama, yang terbaik atau yang berbeda.

E-business pendukung Marketing Model
Setelah menemukan niche market yang pas kemudian melangkah pada pembuatan marketing model. Sistemnya tidak tidak terlepas dari dukungan teknologi E-business, mulai dari yang paling sederhana seperti pemanfaatan e-mail sampai improving level dan transformasi sistem. Online Marketing lebih mudah bila didukung oleh merchant yang sesuai seperti clickbank, pay pal atau pay system. Masalah-masalah penting berkaitan dengan pembayaran dan keamanan akan ditangani oleh merchant.

Afiliasi dan Sindikasi
Untuk memperkuat kinerja marketing tentu diperlukan dukungan dari berbagai produser online business. Melalui program-program yang terkenal seperti Google AdSense dan SEO (Search Engine Opimization) Hira mengerjakan sindikasi dengan perusahaan online yang berkompeten. Selain itu ada juga afiliasi dengan beberapa merchant yang bisa dihandalkan.

Gabungan antara teknologi online dan automasi yang digunakan memungkinkan mesin marketing Ahira bisa bekerja selama 24 jam sehari.

Karakter sebagai kekuatan dalam Marketing
Latar belakang Hira adalah guru bahasa Inggris-Indonesia untuk expatriat. Setelah menjadi marketer, ”Karakter Guru” Ahira tidak ditinggalkanya, bahkan dikembangkan di Elite Team International dan di Marketing Center yang dirintisnya. Oleh karenanya Hira memproduksi pelatihan online marketing berbasis e-learning dan knowledge management.

Pada saat memulai bisnisnya Hira belum memahami cara menggunakan e-mail apalagi mempunyai laptop. Namun Hira saat ini tidak gaptek lagi, bahkan telah menguasai teknis pengelolaan online marketing dengan sangat baik. Karekter diri dan usaha keras diperlukan untuk mengatasi hambatan teknologi dan menembus batas-batas negara.

Salah satu faktor yang meningkatkan keberhasilan Hira adalah kepercayaan relasi dan klien terhadap Anne Ahira. Peran karakter Hira cukup menentukan bagi calon pembeli untuk membeli produk yang ditawarkan.

Keberhasilan Hira menjadikannya seorang marketing strategist. Di tengah berjalannya sistem marketing yang dibangun, Kartini 2005 itu juga memberikan beberapa konsultansi seputar online marketing.

Selain itu, Hira juga berusaha ikut mencerdaskan bangsa melalui pendidikan Online Marketing yang dinamakan Asian Brain Internet Marketing Center

21 November 2005

Nasi Goreng Fresh

Apa rasa ideal untuk nasi goreng? Jawabnya tergantung pada selera dan ke-khas-an jenis nasi goreng. Sebagai penggemar nasi goreng, rasa yang ideal menurut saya adalah adanya citra rasa: nasi liwet fresh, tidak terlalu kering, bumbu tidak bikin neg, pedesnya pas dan lalapan.

Beberapa kelemahan produk nasi goreng yang pernah saya kunjungi diantaranya: bumbu neg, kurang matang, terlalu hitam karena kecap/saus, nasi terlalu kering atau terlalu basah, terlalu manis, terlalu asin dan terlalu pedas.

Untuk menghasilkan nasi goreng yang fresh, sedikit pengalaman berikut mungkin berguna. Jangan menggoreng nasi terlalu lama mengakibatkan nasi kering dan kurang segar, juga jangan terlalu cepat karena aroma gorengan tidak ada. Bumbu harus benar-benar matang terlebih dahulu sebelum dicampur dengan nasi. Untuk itu bumbu digoreng sampai matang seperti kalau kita membuat bawang merah goreng (crispy), seolah di goreng sangrai. Jangan sampai ada bumbu yang masih setengah matang. Tuangkan minyak goreng sedikit demi sedikit sesuai kebutuhan untuk menghindari nasi terlalu terlalu basah karena minyak.

Kalau mau pakai telur, matangkan telur setelah bumbu matang dengan cara: pinggirkan dulu atau pisahkan bumbu sebelum telur matang. Aduk telur, setelah benar-benar matang campurkan dengan bumbu. Disini terjadi proses pematangan lanjut antara bumbu dan telur.

Ada dua tahap penggorengan nasi, pertama sekitar satu sendok nasi untuk membantu pencampuran bumbu. Campurkan dengan rata, lihat kembali kematangannya, bila perlu tunggu sebentar sampai benar-benar matang. Pada tahap ini mungkin bumbu nampak seperti gosong dan lengket. Bila sudah matang baru tahap dua yaitu nasi yang akan digoreng. Cara ini untuk menghindari penggorengan nasi terlalu lama karena menunggu matangnya bumbu.

Bila ingin pakai kecap atau saus tuang sedikit demi sedikit. Matangkan dulu kecap atau saus dengan cara: beri tempat kosong di wajan dengan meminggirkan nasi, tuangkan kecap/saus, tunggu biar panas beberapa saat baru dicampur dengan nasi.

Tahap akhir adalah mencicipi nasi goreng, bila ada yang kurang terutama garam & pedes bisa ditambahkan garam atau saus. Waktu membuat bumbu, garam dan pedesnya sedikit saja, kalau kurang bisa ditambah dengan garam atau saus pada saat mencicipi.

Sebagai tambahan yang bersifat opsional adalah daging. Saya lebih suka tidak menambah daging karena mengurangi rasa "fresh" nasi liwet. Tetapi beberapa nasi goreng di Jogja ada yang menambahkan: saus tiram, daging ayam, daging kambing atau kepiting. Yang jelas daging juga mesti matang terlebih dahulu sebelum ditambahkan ke nasi goreng biar lebih sip.

Sedangkan yang membantu rasa fresh adalah lapap sayuran. Lalapan biasanya berupa daun seledri dan tomat buah yang segar. Bisa ditambah juga dengan timun atau nanas.

Satu porsi nasi goreng yang ideal adalah satu setengah piring nasi liwet, ditambah lalapan. Porsi memang lebih banyak karena menurut pengalaman rasa fresh & gurih nasi goreng bikin tambah nafsu makan.

Hari libur dan senggang saya menyempatkan bikin nasi goreng, penggemarnya pun lumayan banyak. Kalau bicara business sense hobi ini bisa menjadi bisnis bener gak ? :))

03 November 2005

21 October 2005

Hakikat Manusia

Sekejap teringat kalimat lama yang pernah kubaca: ”hakekat manusia adalah pikirannya”. Kalimat itu menggelitik dan menggugah untuk meninjau artinya lebih jauh. Benarkah hakikat manusia itu hanya terdapat pada pikirannya?

Manusia sebagaimana mahluk hidup lain, mempunyai organ-organ penyesuai terhadap alam sekitarnya seperti sistem pengolah energi, sistem indera perasa dan sebagainya. Sistem-sistem tersebut bekerja saling mendukung membentuk sistem yang lebih besar. Sistem yang kompleks pasti bekerja dengan kendali, seolah ada program canggih yang mengendalikan sistem itu. Tanpa adanya program pengendali bagaikan sebuah komputer tanpa software.

Kelebihan manusia dibanding mahluk lain terletak pada kecerdasannya. Dengan kecerdasan manusia dapat membangun karya-karya yang berkembang, menjadi tradisi, teknologi, peradaban dan kebudayaan tinggi, semua bermula dari jalan pikiran (kecerdasan). Pikiran dalam konteks kecerdasan, itulah yang mengendalikan seluruh sistem organ manusia baik sadar maupun tidak.

Gangguan pada kecerdasan seorang manusia dapat menyebaban "kelumpuhan" tertentu. Kalau sudah begitu maka hakikat dan kemampuannya sebagai manusia juga memudar. Gangguan yang bersifat permanen pada kecerdasan membuat manusia lebih mirip mahluk hidup biasa saja. Sebaik apapun fisik manusia bila pengendalinya tidak berfungsi, maka tak berfungsi pula fisik tersebut.

Ternyata dalam kehidupan bisa diamati aspek bervariasi pada kecerdasan. Kepandaian manusia dalam mengkalkulasi dan menyelesaikan persoalan logika-logika matematis sering disebut dengan Kecerdasan Intelegensi.

Sementara jiwa merupakan sisi mental spiritual serta idealisme dalam kehidupan ternyata juga mempunyai kecerdasan, karenanya perkembangan jiwa bisa dikendalikan. Seseorang yang cerdas pikirannya bisa juga tertinggal kecerdasan jiwanya, sehingga mengakibatkan kekurangan mentalitas. Aspek kecerdasan ternyata juga terdapat pada jiwa yang disebut dengan Kecerdasan Spiritual.

Sedangkan emosi merupakan bagian yang mengendalikan perilaku manusia mempunyai nilai kecerdasan juga yang sering disebut dengan Kecerdasan Emosional.

Terbangunnya kecerdasan-kecerdasan itu ditandai dengan kualitas logika yang baik, mental dan emosi yang seimbang serta nilai spiritual yang tinggi. Sebaliknya kekurangan pada salah satu saja aspek kecerdasan itu mengakibatkan kekurangan pada diri manusia dan ke tidak-seimbangan. Jadi Bolehlah dikatakan kalau kecerdasan merupakan top management dalam sistim kehidupan manusia, sebagai pengendali dan pengarah semua kegiatan manusia.

Pemahaman kita sementara menyimpulkan bahwa semua kecerdasan berpusat di otak dan susunan syaraf pusat. Bila manusia kehilangan seluruh kecerdasannya maka hanya menyisakan insting. Mahluk hidup lain juga mempunyai insting yang merupakan bagian dari kecerdasan dasar alami. Tetapi dengan insting saja manusia tidak bisa memecahkan banyak persoalan hidup, manusia membutuhkan kecerdasan lebih dari sekedar insting.

Kembali pada kalimat yang menggelitik diatas: "hakikat manusia adalah pikirannya" bila yang yang dimaksud pikirannya adalah kecerdasannya, maka kalimat itu ada benarnya. Bagaimana kinerja manusia, menjadi seperti apa manusia semua itu banyak bertumpu pada jalan pikirannya.

Apakah keseluruhan kehidupan manusia cukup diwakili dari "kecerdasan"nya? Dalam hubungan dengan keyakinan akan hari kebangkitan, cukupkah bila fungsi-fungsi kecerdasan saja dibangkitkan untuk diminta per-tanggung-jawabannya?

Tetapi telah diisyaratkan bahwa organ-organ manusia akan berbicara dan menjadi saksi tentang apa yang dikerjakan pada hidupnya. Petunjuk tersebut cukup valid bila mengingat bahwa organ-organ kita dapat menunjukkan (menceritakan): pola hidup, kesehatan, penyakit yang diderita dan sebagainya.

Sementara kecerdasan dan fisik bervariasi terhadap usia, bagaimana dan pada usia berapa saat manusia dibangkitkan kembali? Termasuk hal gaib?

Untuk urusan hal-hal gaib seperti itu manusia hanya bisa memahami porsi yang sangat kecil, sedangkan kewajiban manusia adalah mengimani hal itu sesuai dengan logika yang ada.

Wallahualam. Dia lah yang maha mengetahui dan menjaga.

Kecerdasan sebagai penentu siapa hakikat diri kita, sebagai karya kecerdasan apa yang kita kerjakan adalah tanggung jawab kita. Manfaatkan kelebihan kita itu untuk karya yang dapat di-pertanggung-jawabkan baik untuk hari ini maupun hari esok.