Adakah makanan sehari-hari yang tidak mengandung gula? Kalau kita hitung mungkin jumlahnya sangat kecil dibanding yang mengandung (diberi) gula. Rasa manis ternyata tidak mudah dipisahkan dalam kehidupan manusia, kecuali kalau kita puasa mutih :) Manis alami dari tumbuh-tumbuhan biasa disimpan dalam bentuk gula. Paling populer adalah gula tebu (gula pasir), sedangkan pemanis buatan saat ini tidak populer karena tidak mendukung kesehatan.Berbagai permasalahan seputar rasa manis jarang kita perhatikan kerena publikasinya terbatas dan kalah dengan masalah lain seperti politik, ekonomi dan sebagainya. Hanya kadang-kadang saja kita mendengar masalah ”gula impor”. Baik legal maupun ilegal, impor gula ternyata mengganggu perekonomian masyarakat terutama bagi petani tebu. Kekalahan gula kita ada pada kualitas dan harganya. Kalau gula impor kualitas bagus dengan harga rendah bisa masuk maka industri gula kita bisa tidak laku.
Ada komunitas yang concern tentang gula, mereka yang tergabung dengan ikatan ahli gula Indonesia, tanggal 25 januari kemarin kumpul-kumpul & seminar sehari di Jogja. Karena gak sengaja lagi saya ikutan melihat suasana seminar :p. Temanya formal banget: Meningkatkan Nilai Tambah Perusahaan Gula melalui Peningkatan Kinerja Operasi dan Diverisifikasi Usaha.
Beberapa panelis mengungkapkan success story yang cukup menarik. Bukan hanya membahas proses dan produk gula itu sendiri yang cukup rumit tetapi juga berbagai aspek optimalisasi industri seputar gula, seperti peningkatan kualitas, efisiensi, strategi.
Selain menghasilkan produk samping alkohol dan spiritus, sisa produk tebu yang berupa bagase dan daduk bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif dan bahan baku kanvas rem yang berkulitas. Menurut eksperimen mereka selama bertahun-tahun, daduk sebagai sumber energi alternatif yang terbarukan bisa menghemat biaya hanya 30% nya BBM!. Kanvas rem sudah diproduksi mulai dari rem cakram sepeda motor, mobil, rem tromol sampai rem kereta api. Produk samping lain adalah particle board, pupuk, pakan ternak.
Tantangan buat para ahli gula negeri ini: buat gula kualitas bagus & harga ekonomis, sehingga tidak perlu phobi (takut) terhadap gula impor (China & Thailand). Kelebihan gula impor pada kualitas: putih (bersih), rasa manis, serta harga yang relatif rendah.
Menurut sejarah, Indonesia (Jawa) telah unggul di bidang gula pasir pada tahun 1930an dengan pasar di kawasan Eropa. Namun pada masa itu yang mengelola adalah pemerintah Belanda, sehingga itu kinerja Belanda pada waktu itu. Tetapi mengapa sekarang kita kalah ?
Dalam seminar tersebut diceritakan juga pengalaman seorang pegawai negeri yang sukses setelah berganti profesi menjadi petani tebu. Kalau dibandingkan bila saat ini dia masih pegawai negeri tentu tidak bisa jalan-jalan benchmarking ke China, Thailand, India atau Malaysia. Keputusan untuk berubah dilandasi pada keinginan untuk berkarya secara profesional. Menurutnya tak mungkin bekerja sebagai petani secara profesional sementara dia tetap sebagai pegawai negeri. Dengan kata lain tidak ada pekerjaan yang disebut sambilan kalau kita ingin profesional.
Sementara itu kita tahu bahwa gula juga telah menyebabkan penyakit, akankah kepopulerannya bergeser oleh gula dari jagung yang rendah kalori dari jagung (dextrose) ?



